Siri Novel - Setelah ku dinikahi (I)

Tuesday, July 27, 2010




“Apa yang kau tak faham? Aku mencintaimu,” kata-kata Idlan begitu lantang, menghentamku seperti satu pukulan keras yang membuatku terhempas.

“Aku mencintaimu sejak kau memarahiku kerana menjatuhkanmu ke longkang, dua puluh tahun yang lalu, waktu kita masih sama-sama belasan tahun. Dan aku tidak pernah untuk berhenti mencintaimu hingga kini.”

“Kau … kau tidak pernah ….”

“Kau tidak pernah memberikanku kesempatan. Kau selalu jatuh cinta dengan orang lain atau patah hati kerana orang lain, dan kau selalu datang kepadaku menceritakan semuanya. Aku tahu aku bukan lelaki idamanmu. Aku tidak pandai menangkap gambar. Tidak menulis puisi. Kalau kau katakan sebuah lukisan itu bagus, aku tidak memahami kenapa. Aku bukan juara pidato dan ketua pegawas yang kau gilai di Sekolah Menengah. Aku bukan siswa kampus yang membuatmu mabuk kepayang waktu kuliah dulu. Aku hanya insan biasa saja. Aku tahu ini sangat menyedihkan, memalukan dan aku benci kau mengasihaniku. Tapi selama ini aku langsung tidak ada keberanian, belum lagi berkesempatan, untuk berterus terang kepadamu.”

“Kau bukan hanya insan biasa, Dlan,” jawabku.

“Kau istimewa dengan caramu sendiri.”

Idlan mengangkat bahu.

“Tidak cukup untuk kau cintai.”

Sesaat aku hanya dapat terdiam, menatap kedua mata Idlan, mencari tanda-tanda kalau semua ini hanya salah satu daripada gurauannya. Tetapi dia kelihatan bersungguh-sungguh.

“Kenapa kau katakan semua ini kepadaku waktu kita akan berpisah seperti ini? Apa yang kau inginkan?” tanyaku mendatar.

Idlan tersenyum kecil. Ada kepedihan dalam senyumannya, sesuatu yang tak pernah kutemui sebelumnya.

“Aku sendiri tidak tahu kenapa aku mesti mengatakan semua ini kepadamu. Aku hanya ingin kau tahu aku mencintaimu.
Bukan kerana aku masih berharap kau akan mencintaiku juga. Sekarang tidak ada bezanya lagi. Tapi aku ingin kau tahu yang kau tetap memiliki cintaku, apapun yang terjadi, walaupun jika akhirnya kau benci kepadaku atau melupakanku sekalipun.”
 
Dia tertunduk seketika. Ada sesuatu yang berlainan berpijar di matanya ketika dia kembali menatapku.

“Dan kalau kau tanya apa yang kuinginkan, aku ingin kau di sini bersamaku, seumur hidupku. Aku ingin kau belajar dan
akhirnya benar-benar mencintaiku, mungkin tidak akan pernah sedalam dan separuh cintaku kepadamu, tapi sekurang-kurangnya kau tidak lagi menganggapku
hanya sekadar sahabatmu, tapi juga kekasihmu. Aku ingin mencintaimu lebih dari yang pernah kutunjukkan.”

Idlan menghela nafas berat.

“Tapi itu semua keinginanku. Bukan kemahuanmu. Kebahagiaanku, belum tentu kebahagiaanmu juga.”

Lama kami berdua saling berpandangan.

“Terima kasih, Dlan,” ujarku akhirnya. Kupeluk dia erat-erat, menyembunyikan air mataku di bahunya.

******

“Aku sudah berbincang dengan Idlan, Is. Tapi aku terpaksa menunda proses perceraian itu. Idlan baru saja kehilangan ibunya. Rasanya tidak patut jika kita berbicara soal perceraian masa ini.”

“Berapa lama?”


Bersambung...................








No comments:

Related Posts with Thumbnails